Himpunan mahasiswa Islam (HMI) sebuah organisasi besutan Lafran pane sudah tidak lagi muda, jika dianalogikan seperti umur manusia saat ini, maka HMI hari ini sudah keriput, keropos dan pikun. Bagiamana tidak? Usia yang ke 78 Tahun tentu terbilang cukup tua. Dalam tubuhnya pasti terdapat penyakit yang akan mengantarkan pada kematian. Jika tubuh Manusia diberi obat lalu sembuh, berarti HMI seharusnya juga menerima obat yakni kritik !! Meski pahit tapi ia dapat meminimalisasi penyakit yang menjalar pada tubuhnya.
*Masa silam kelahiran HMI*
HMI lahir dari perjuangan, darah dan air mata. Sebuah pengorbanan yang nilainya lebih, tak dapat ditukar dengan apapun itu. Pada tanggal 05 februari 1947 Lafran pane mendeklarasikan terbentuknya HMI bersama empat belas kawan-kawannya di ruang kuliah Sekolah Tinggi Islam (STI) yang sekarang dikenal dengan kampus Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. HMI didirikan bukan tanpa alasan, terbentuknya HMI dilatarbelakangi kondisi internasional, kondisi NKRI, dan kondisi kemahasiswaan pada saat itu. (Baca sejarah perjuangan HMI)
*Milad HMI dari masa ke masa*
Tiap tahun Kader HMI memperingati milad dengan dirangkaikan kegiatan seremonial, potong tumpeng, tepuk tangan dan selesai begitu saja seolah-olah tak ada refleksi atau kesadaran berorganisasi. Sebaiknya pada momentum milad HMI dirangkaikan dengan kegiatan sosial yang berefek pada masyarakat sehingga masyarakat merasakan kehadiran HMI ditengah carut marut kehidupan sekarang ini dan bukan sekedar seremonial.
*HMI dalam pengambilan keputusan tertinggi*
Disadari atau tidak, ada diantara kader HMI itu sendiri yang mengkerdilkan HMI dengan cara membawa organisasi yang mungkin dapat dikatakan kolot. Contoh misalnya, dalam pengambilan keputusan di tingkatan pengurus komisariat disebut Rapat Anggota Komisariat (RAK), kemudian pada tingkatan pengurus cabang disebut Konferensi Cabang (KONFERCAB), hingga di tingkatan Pengurus Besar disebut KONGRES. Kader HMI melaksanakan dengan polarisasi yang sangat bertentangan dengan aturan main dalam organisasi. Pasalnya, HMI bersifat independen namun seringkali melibatkan kelompok politik diluar dari HMI. Nyeleneh bukan? Lalu di setiap momentum memperingati milad HMI, Apa yang direfleksi? Apakah ada kesadaran ? Kalau tidak !! Maka semua kegiatan yang dicanangkan hanya seremonial belaka, membangun citra tanpa cita. Atau jangan-jangan hanya sebatas euforia semata.
*HMI dan tantangan perkaderan*
Menyaksikan realitas mahasiswa hari ini memiliki persoalan yang sangat kompleks ditengah arus modernisasi dan digitalisasi semakin maju. Ketika ada momen perekrutan LK, Kader HMI cenderung membuat pamflet dengan berbagai modifikasi, terdapat gambar senior alumni HMI, terdapat tulisan; mendapatkan ilmu, membangun relasi, jodoh jika beruntung. Seolah-olah ia menawarkan "ayo gabung di HMI supaya seperti gambar dalam pamflet dan ajang cari jodoh bukan? Heheh
Di momentum milad HMI ke 78, jika kader-kader komisariat tidak berinovasi dalam merekrut kader, maka ini adalah tantangan bagi mereka apatah lagi minat mahasiswa berorganisasi terbilang cukup minim. Perkaderan dianalogikan sebagai jantung HMI, ibarat manusia jika jantungnya tidak berdetak maka akan dinyatakan mati. Begitu pula dengan perkaderan, jika Komisariat tidak melakukan kaderisasi dalam satu periode maka akan dinyatakan mati.
Tulisan amatir ini berangkat dari meja kopi bersama saudara sehijau hitam Widodo (Sekretaris umum HMI), Masril (Kabid Hukum dan Ham), Siddiq (Ketua komisariat Fikom) kami berdiskusi sekaitan dengan kegiatan milad HMI yang tiap tahun diperingati sebagai upaya merawat eksistensi HMI dari tahun 1947 - 2025. Dies Natalies HMI ke 78.
~Aswar